5S pada jalan di area produksi

Ini contoh penerapan 5S pada area jalan di area produksi. Warna yang paling sering digunakan di banyak industri adalah hijau yang menunjukkan alur jalan utama. Apabila ada tamu yang berkunjung ke pabrik pun harus melalui jalur hijau tersebut dan hanya diperbolehkan masuk diantara mesin-mesin produksi apabila didampingi personel yang berwenang. Kecuali customer tentunya. Apalagi bila kunjungan dimaksudkan untuk memastikan sistem proses produksi atau inspeksi karena adanya quality problem.

Bagian tepi jalan umumnya diberi garis kuning untuk memperjelas area. Garis kuning juga dipakai sebagai pembatas setiap area proses produksi. Biasanya hanya operator dan orang-orang yang berkepentingan yang berada di dalam area garis kuning.

IMG_00003277Jalur jalan utama atau jalur hijau juga sebaiknya dilengkapi dengan petunjuk arah evakuasi yang diperlukan bila harus melakukan evakuasi.

Masih banyak contoh penerapan 5S lainnya. Akan dibahas kemudian..

Resensi buku The Leader, The Teacher and You

Sharing resensi buku “The Leader, the Teacher & You : Leadership through the Third Generation” karya Lim Siong Guan. ‎Ini saya dapatkan dari seorang teman. Menarik untuk jadi bahan pelajaran bagi kita. Selanjutnya bisa mulai diterapkan untuk anak-anak penerus kita.

PIKIR… DAN PIKIRKAN LAGI (THINK… AND THINK AGAIN)

Sekitar 20 tahun yang lalu, saya berbicara dengan seorang warga Singapura tamatan sekolah di Jepang, kemudian bekerja pada perusahaan Jepang di Singapura. Waktu itu “Gerakan Produktivitas Nasional” di Singapura baru saja dimulai dan kami ingin belajar sebanyak mungkin dari orang Jepang mengenai produktivitas.

Saya tanyakan ke dia, “Apa perbedaan orang Jepang dengan orang Singapura? Bagaimana cara perusahaan-perusahaan Jepang bisa membuat karyawannya selalu memikirkan cara-cara baru untuk meningkatkan pekerjaan mereka? Pada produk-produk buatan Jepang yang sudah bagus, misalnya mobil dan kamera, bagaimana mereka selalu terus mampu memunculkan desain-desain baru?

Dia menjawab, “Semuanya dimulai saat orang Jepang masih kecil. Sejak kecil, mereka sudah diajarkan untuk memikirkan apapun yang sedang dikerjakan dan memahami (konsekuensi) mengapa mereka melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya pekerja-pekerja di Jepang terus menerus memikirkan cara-cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu dan hal-hal yang lebih baik untuk dihasilkan“.

“Sebagai contoh, seorang ayah (orang Jepang) yang ingin menggantungkan pigura di dinding. Di meminta anaknya untuk membawakan paku. Jika si anak hanya membawakan kepadanya paku, dia akan tanya, ‘mana palu nya?’ Si anak akan berkata ‘Saya mohon maaf karena tidak membawakan palu’, kemudian pergi untuk mengambil palu.”

“Sekarang bayangkan skenario yang sama, tapi kali ini orang Singapura. Jika si anak hanya membawakan paku, dan ketika ditanya sang ayah, “mana palu nya?” kira-kira apa jawaban si anak? Apakah dia akan mohon maaf (seperti anak Jepang)? Atau akan berkata ‘Ayahkan tidak minta saya membawakan palu’”.

Kita tidak boleh membatasi diri dengan cukup melakukan hal yang dimintakan kepada kita untuk dikerjakan. Kita harus selalu menanyakan kepada diri sendiri “Untuk apa hal ini saya lakukan?” Kemudian memikirkan juga apa lagi yang seharusnya kita lakukan, baik itu berupa cara yang lebih baik atau hal-hal baru yang dapat dihasilkan, yang berguna, masuk akal, danefektif. Dengan demikian kita akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Marilah kita ingat: Jangan hanya membawakan paku. Apakah perlu sekalian bawa palu juga? Apakah lebih baik foto tersebut digantungkan di dinding yang lain? Atau lebih baik digantungkan foto lain atau ukir-ukiran saja? Apa tujuan foto tersebut digantung? Apakah akan membuat ruangan kelihatan lebih baik? dll…

Pikir… dan pikirkan lagi.

Save a TREE. Read digitally. Nearly 17 reams of paper use 1 tree. Save our earth.

SOP: Alat bantu atau Pemborosan Waktu besar-besaran?

Judul asli artikel yang saya sadur dari Quality Digest ini adalah "SOPs: Powerful Tools or Colossal Waste of Time?". Arti colossal dalam kamus adalah kolosal atau suatu usaha yang sangat besar untuk mencapai sesuatu. Saya terjemahkan menjadi "besar-besaran" karena rasanya lebih pas. Artikel ini ditulis oleh Teresa Tarwater, seorang profesor di Washington University dan presiden marketing di industri software SOP. Saya tidak punya hubungan apapun dengan Teresa atau produknya, hanya sekedar membaca yang saya pikir bagus untuk dimasukkan di blog saya. Berikut tulisannya dengan edit sesuai bahasa saya tanpa mengurangi esensinya.

Ketika pembicaraan mengenai SOP (Standard Operating Procedure) diangkat, kebanyakan orang langsung terbagi menjadi dua kelompok: lover dan hater, atau pencinta SOP dan pembenci SOP. Untuk setiap Quality manager, auditor, konsultan, direktur dan Chief Operational yang melihat SOP sebagai dasar fondasi kesuksesan dan efisiensi sebuah organisasi, ada orang yang sama banyaknya yang melihat SOP sebagai lawan dari membantu organisasi.

Alih-alih melihat SOP sebagai alat bantu penting untuk mengelola dan memperbaiki operasi, banyak manajer (mungkin Anda salah satunya) yang menganggapnya sebagai hantu terbaik yang diperlukan. Sangat sulit untuk tidak setuju, terutama ketika Anda melihat organisasi Anda menghabiskan waktu besar-besaran dari waktu staf Anda dan uang yang menghasilkan manual proses yang berbelit-belit dan sulit dimengerti dan proses-proses yang hanya membuat karyawan bingung, frustasi dan kacau.

Meskipun menggunakan waktu yang signifikan, uang dan sumber daya manusia, banyak manual SOP perusahaan yang berakhir menjadi tidak dipakai, tidak dibaca dan kadang-kadang malah membahayakan. Jika anda bertanya, "Dimana nilai bisnisnya?" anda akan mendapatkan poin bagus. Anda mungkin juga akan bertanya, "Mengapa melakukan itu semua? Haruskah kita hentikan?"

SOP pada awalnya dibuat untuk menghindari tabrakan kereta – dalam arti yang sesungguhnya!

Untuk menjawab pertanyaan diatas, sangat menarik untuk mempertimbangkan dari mana semua ide dimulai. Di Amerika, SOP dimulai dengan jalan kereta; mereka membuatnya sebagai cara untuk mencegah tabrakan kereta. Ini yang dipresentasikan cendekiawan JoAnne Yates dalam bukunya, Control through Communication: The rise of system in American Management (Johns Hopkins University Press, 1993).

Dimulai pada tahun 1980, rel kereta dan kemudian firma pembuatnya "menyelidiki untuk mencapai kontrol yang lebih baik terhadap proses bisnis dan hasilnya dengan menerapkan sistem melalui komunikasi yang terkontrol, " tulis Yates. Dalam mencari cara untuk memperbaiki keamanan dan efisiensi, industri-industri ini mempelopori praktek kebijakan dan prosedur tertulis yang terstandarisasi dan menyebarkan standar praktek terbaik. Tidak ada seorangpun yang melakukannya sebelumnya!

Dengan membuat standard operating policies and procedures – dan mendistribusikan ke seluruh karyawannya – ditemukan bahwa jalur kereta dapat berkoordinasi dengan lebih baik dan menstandarkan prosesnya, sehingga dapat mencegah problem-problem utama (misalnya tabrakan kereta!) seiring dengan meningkatnya proses mereka menjadi lebih kompleks dan semakin tersebar secara geografis.

Ada banyak nilai bisnis (business value) di dalamnya.

Organisasi perlu proses-proses yang terstandarisasi dan SOP yang jelas saat ini sebagaimana yang dilakukan di abad 19 dan 20. Teknologi mengalami banyak perubahan, tetapi kebutuhan inti tidak berubah.

Kehidupan modern dan organisasi modern jauh lebih kompleks dan cepat berubah untuk dinavigasi dengan trial dan error (coba-coba dan salah). Sebagai perkiraan, rata-rata pekerja Amerika harus membuat lebih dari 10.000 keputusan terpisah di setiap hari kerjanya. Salah satu contoh, dalam bukunya Mindless Eating (Bantam, 2010), peneliti Universitas Cornell, Brian Wansink mencatat bahwa rata-rata orang Amerika membuat 200 keputusan setiap hari hanya tentang makanan.

Tidak aneh jika orang memerlukan panduan, peta jalan untuk mencapai target. Tanpa instruksi, trian dan error adalah hal yang banyak kita lakukan – tetapi trial dan error adalah ‘berantakan, lambat dan kadang-kadang fatal. Sistem yang baik dan dikomunikasikan dengan jelas masih merupakan kunci kesuksesan proses dan menghindari bisnis "tabrakan kereta".

Sumber: http://www.qualitydigest.com/inside/quality-insider-article/standard-operating-procedures-powerful-business-tools-or-colossal
Save a TREE. Read digitally. Save our earth.

The difference between Consultant and Auditor

Apa perbedaan dari Konsultan dan Auditor? Kalau yang mudah terlihat ada satu hal. Auditor setiap kali habis mengaudit, biasanya auditee akan mengajak lunch atau dinner di luar kantor. Bisa di rumah makan biasa, rumah makan yang ada di hotel, atau di tempat keramaian lainnya. Tetapi kalau konsultan, yuk kita ke kantin….. Bedanya lagi kalau auditor sangat diharapkan cepat pulang dari perusahaan, tapi kalau konsultan, kok sudah selesai sih… ?

That’s the joke which is not 100% wrong….

Audtor itu berwenang menentukan masa depan perusahaan. Sudah capek diaudit, kalau tidak dapat selembar sertifikat, maka organisasi yang diaudit bisa dipastikan akan kecewa. Apalagi konsultannya… sudah ‘disalahkan’ organisasi, ada beban mental karena apa yang diberikan tidak membuahkan hasil optimal. Sudah jatuh tertimpa tangga..

Itu perbedaan signifikan yang saya rasakan sebagai auditor dan konsultan. Sebagai auditor saya tidak terlalu punya beban mental karena frekuensi pertemuan sebelumnya hanya sedikit atau bahkan baru kenal saat itu, sehingga hubungan pun belum terjalin sebaik bila menjadi konsultan yang sering datang dan diskusipun akhirnya tidak terbatas hanya tentang proyek. Hubungan pertemanan juga bisa terjalin dengan manis. Jika sudah seperti ini, "rasa memiliki" terhadap organisasi juga mulai tumbuh dan akibatnya akan ada beban rasa bersalah kalau tidak berhasil dalam audit sertifikasi.

Jadi mana lebih enak, profesi auditor atau konsultan?? Sebenarnya keduanya sama enak. Pasti ada plus minusnya. Persamaannya baik konsultan atau auditor sama-sama bisa belajar banyak di perusahaan manapun yang dilakoni. Konsultan atau auditor bukan dewa yang maha tahu semua proses, jadi sedikit banyak pasti belajar hal baru saat melakukan pekerjaannya. Auditor bisa berperan sebagai konsultan saat memberikan masukan terhadap kemungkinan temuannya. sebaliknya, konsultan juga bisa berperan sebagai auditor, terutama saat mengaudit persiapan perusahaan sebelum diaudit auditor resmi.

Auditor atau badan registrasi saat ini ada banyak, dan secara bisnis mereka bersaing merebut customer. Jadi secara logis mereka akan menunjukkan kompetensi dan kredibilitasnya. It’s okay as long as apa yang diberikan masih dalam batas kewajaran profesinya. Yang menjadi masalah kalau auditor "asal" mengaudit atau malah yang "mendapat pesanan" sertifikat. It’s really really not educated. Dan secara personal, baik auditor atau "si pemesan" sama-sama tidak mumpuni… Tetapi tidak sedikit auditor yang sangat text book dan sulit diajak diskusi untuk melihat persamaan dalam dokumen lain. Menggemaskan…..

Konsultan juga saat ini ada banyak, bahkan tidak sedikit yang banting harga konsultasi ataupun sekedar pelatihan. It’s also okay as long as apa yang diberikan tidak mengurangi materi ajar dan fungsi konsultan secara tegas, yaitu sebagai guru tempat berkonsultasi. Saya sebagai konsultan selalu bertanya di awal penawaran kerja sama, apakah saya harus bekerja sendiri atau ada staf yang ditempatkan khusus. Saya tidak suka kalau harus bekerja sendiri, karena cuma saya yang tambah pinter keblinger. Pasti keblinger karena saya harus belajar proses produksi sendiri. Saya lebih suka jika ada staf yang menjadi koordinator internal dan saya lebih ke arah mengajari apa yang harus dilakukannya. Membantu langsung dalam membuat beberapa dokumen, terutama yang agak rumit, it’s okay, sepanjang saya tidak harus membuat seluruhnya. It’s in contra with my vision. Saya ingin tambah banyak perusahaan yang mempunyai sistem manajemen yang baik. Saya ingin Indonesia bisa membuktikan pada dunia bahwa sistem manajemen mutu di perusahaan kita bukan cuma gantungan sertifikat, tetapi well implemented sampai well done (matang banget kalau ukuran steak… ).

Memang saya tidak bisa menutup mata. Terus terang saat ini banyak perusahaan yang senang sekali memajang sertifikat ISO 9001 dan teman-temannya, tetapi sebenarnya belum well done tadi. entah karena konsultannya yang suka ambil jalan pintas, tidak mendarat dalam menyampaikan penyelesaian masalah (omdo kata istilah betawi), atau karena si bos yang merasa kalau ISO 9001 dkk cuma buang uang. Wong kita ini pabrik barang kok, bukan dokumen. Wong kita ini sudah over capacity kok, kenapa juga harus bayar uang kalibrasi, bayar biaya audit ke supplier, bayar training-training lain, dll, dsb…

My dream is still dream… It’s up to you.. ISO 9001 is mostly mandatory in many factory. It’s your choice. Get it just now, atau let’s well done our management system…

Analisa MSA Repeatability & Reproducibility

Analisa Repeatability & Reproducibility (GRR) dapat dilakukan dengan range method, average & range method ataupun ANOVA. Saya tidak akan menguraikan cara perhitungan dengan angka-angka karena hal ini bisa dilihat dengan mudah di buku panduan MSA ataupun software-software yang banyak beredar. Saya hanya menekankan langkah-langkah pelaksanaannya dan cara menganalisa. Lanjutkan ke page 2.

Analisa MSA Linearity

Analisa Linearity juga dapat dilakukan secara grafik maupun numerik, yaitu dengan hitung-hitungan. Saya tidak akan menguraikan cara perhitungan dengan angka-angka karena hal ini bisa dilihat dengan mudah di buku panduan MSA ataupun software-software yang banyak beredar. Saya hanya menekankan langkah-langkah pelaksanaannya dan cara menganalisa. Lanjutkan ke hlm 2.

Analisa MSA Bias

Analisa Bias dapat dilakukan secara grafik maupun numerik, yaitu dengan hitung-hitungan. Saya tidak akan menguraikan cara perhitungan dengan angka-angka karena hal ini bisa dilihat dengan mudah di buku panduan MSA ataupun software-software yang banyak beredar. Saya hanya menekankan langkah-langkah pelaksanaannya dan cara menganalisa. Lanjutkan ke hlm 2.

Studi MSA atau Analisa MSA

Pada dasarnya studi atau analisa MSA dapat dibagi dalam 2 tahap, yaitu :

  1. Phase 1.
    Phase ini lebih menekankan ke pemilihan / studi alat ukur sesuai dengan karakteristik / spesifikasi yang diinginkan. Studi yang dilakukan meliputi studi bias, linearity, stability, repeatability dan reproducibility. Studi-studi ini dapat diplih, mana yang applicable (tidak harus seluruhnya). Hasil dari phase 1 merupakan input untuk phase 2 dalam menentukan program maintenance sistem pengukuran selanjutnya. Kondisi lingkungan dapat menyebabkan perubahan lokasi sistem pengukuran. Phase 1 dilakukan pada proses APQP. Lanjutkan ke page 2.

Quincunx, Alat Bantu Training Statistik

dice51Salah satu alat bantu yang bisa dipakai untuk memberikan training statistik adalah Quincunx. Quincunx yang dimaksud disini bukan titik kelima yang ada di dadu “angka 5″, seperti definisi yang da di wikipedia, si ensiklopedi cermat masa kini. Tetapi quincunx disini adalah alat bantu yang semula ditemukan oleh Sir Francis Galton untuk menunjukkan hukum kesalahan dan distribusi normal pada dunia statistik. Hhmm… keren yah namanya. Lanjutkan ke page 2.

Salah satu alat bantu yang bisa dipakai untuk memberikan training statistik adalah Quincunx. Quincunx yang dimaksud disini bukan titik kelima yang ada di dadu “angka 5″, seperti definisi yang da di wikipedia, si ensiklopedi cermat masa kini. Tetapi quincunx disini adalah alat bantu yang semula ditemukan oleh Sir Francis Galton untuk menunjukkan hukum kesalahan dan distribusi normal pada dunia statistik. Hhmm… keren yah namanya.

Quincunx yang disebut juga bean machine terdiri dari sebuah papan yang diberi paku atau pasak-pasak kecil dan disusun selang seling sebanyak beberapa baris. Di bagian bawah paku-paku ada kapiler atau rongga untuk mengalirkan atau menjatuhkan manik-manik dari bagian atasnya. Manik-manik ini begitu dijatuhkan akan melewati paku-paku kecil dan masuk ke dalam kapiler-kapiler dan menumpuk hingga menjadi suatu bentuk. Bentuk yang dihasilkan ini yang disebut sebagai kondisi distribusi normal dalam statistik.

quinchunx11Bead machine ini pada perkembangannya juga menjadi inspirasi dalam pembuatan berbagai permainan yang digemari tua dan muda. Misalnya pachinko yang bisa ditemui di seluruh penjuru Shibuya, Jepang. Pachinko menggunakan prinsip bead machine dimana bola dilemparkan ke arah pin-pin yang diletakkan pada posisi tertentu. Ada juga bagatelle yaitu sejenis permainan indoor yang mirip bilyard. Di sini bola dimasukkan ke dalam lubang tetapi harus melewati pin-pin yang dikondisikan sebagai penghambat. Pachinko dan bagatelle ini kemudian juga menginspirasi pembuatan permainan pinball yang bisa dimainkan di komputer. Kalau ini kebanyakan orang Indonesia pasti tahu. Selain itu juga ada payazzo atau pajatso yang populer di Finlandia dan Jerman. Permainan ini menggunakan koin yang dimasukkan ke slot-slot tertentu. Bead machine juga meninspirasi permainan Plinko yang masih populer di salah satu stasiun televisi Amerika. Wah seru ya.. mau bicara statistik malah jadi mau main…. :)

Begitu deh. Dengan menggunakan quincunx diharapkan training statistik akan lebih hidup karena ternyata untuk mengerti statistik tidak terlalu sulit. Mungkin mirip dengan anggapan sebagian besar anak sekolah bahwa “math is nightmare”, padahal matematika bisa diajarkan sambil bermain.

Quincunx sangat membantu dalam memberikan pengertian statistik dasar bahkan untuk orang yang bukan berasal dari disiplin ilmu statistik atau teknik. Sekali kita menggunakan quincunx untuk memberikan training statistik, maka sepertinya kita tidak bisa kehilangannya dalam training-training selanjutnya. Berikut ini beberapa simulasi penggunaan quincunx yang dapat membantu kita memahami konsep dasar statistik.

1. Simulasi kondisi atau keadaan statistik.

  • Jatuhkan sekitar 35 manik-manik secara terus menerus melalui funnel atau corong yang disetting pada posisi tetap. 
  • Beri angka pada kapiler-kapiler yang terisi manik-manik. Misalnya 1 sampai 20. – Hitung mean dan standar deviasi. 
  • Perkirakan batas 6 sigma atau batas standar deviasi. 
  • Buat taruhan bahwa 100 manik-manik berikut yang akan dijatuhkan akan berada dalam batas 6 sigma tadi. 
  • Jatuhkan 100 manik-manik dan menangkan taruhan Anda.

Simulasi ini akan membuat peserta training mengerti bahwa suatu hasil pengukuran atau hasil proses produksi tidak selalu tetap sama persis, tetapi selalu berada dalam batas (atau spesifikasi) tertentu. Kalau Anda benar taruhan, ini juga bisa menambah uang jajan lho…

2. Simulasi “process centering” atau mengatur posisi tengah.

  • Buat garis batas spesifikasi kiri dan kanan pada quincunx dengan menggunakan spidol atau paper tape. Misalnya pada kolom ke-5 dan ke-20. 
  • Atur posisi funnel atau corong agak ke kiri atau kanan. Kemudian jatuhkan 3 manik-manik.
  • Tentukan posisi tengah berdasarkan posisi ketiga manik-manik yang dijatuhkan tadi. Kemudian geser funnel ke posisi yang dianggap tengah tersebut. 
  • Jatuhkan beberapa manik-manik lagi. Tunjukkan bahwa akan ada manik-manik yang jatuh diluar batas spesifikasi. 
  • Sekarang atur posisi funnel di tengah-tengah spesifikasi dan jatuhkan beberapa manik-manik lagi.

Pastikan bahwa trainee mengerti akan konsep “process centering”. Tiga manik-manik pertama tadi tidak selalu berada dalam posisi tengah spesifikasi dan bahwa setting berulang-ulang bisa memberikan dampak negatif. Misalkan setting pada suatu proses produksi. Alih-alih mendapatkan produk dengan variasi kecil, malah mendapatkan klaim karena ada produk diluar spesifikasi tetapi tidak terdeteksi dengan sistem inspeksi sampling.

3. Simulasi perhitungan grafik X-R

Kita bisa membuat grafik X-R chart pada quincunx dengan menjatuhkan beberapa manik-manik. Kemudian buat peserta menebak apakah kita menggeser funnel atau tidak berdasarkan posisi jatuhnya beberapa manik-manik pada beberapa kali run berikutnya. Ini bisa membantu peserta mengerti tentang perubahan proses yang sering dihadapi. Misalnya apabila ada kerusakan mesin atau beberapa baut kendor, dan sebagainya.

Ini beberapa simulasi yang bisa diterapkan dengan menggunakan quincunx. Ada beberapa jenis simulasi lain yang bisa dicoba, misalnya simulasi inspeksi sampling random, pre-control dan process improvement. Semuanya ditujukan untuk memudahkan belajar pengertian statistik dan membuat training yang lebih variatif daripada sekedar belajar menghitung dan membuat grafik kontrol. Kalau sekedar menghitung, saat ini ada komputer dan sederet software yang bisa digunakan untuk berbegai jenis teknik statistik. Tetapi pengertian dasar statistik tidak bisa didapat hanya dengan belajar menghitung. Penekanan akan konsep dasar statistik akan jauh lebih bermanfaat dan lebih kekal. Nah, jika Anda berminat dengan quincunx, silahkan menghubungi kami. Training statistik kami menggunakan alat bantu ini dan juga sample box yang akan saya bahas lain kali.

World Environment Day 5 Jun 2009

unite_english2Hari Lingkungan sedunia atau World Environment Day (WED) diperingati setiap tanggal 5 Juni. Pada awalnya WED ditetapkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) sebagai salah satu bagian dari PBB. Tujuannya untuk membangkitkan kesadaran dunia akan lingkungan dan mendorong kebijakan politik yang mendukung pelestarian lingkungan. Lanjutkan ke page 2.