Prosedur dan Instruksi Kerja pada ISO/TS 16949

Seperti telah diuraikan pada Sistem dokumentasi pada ISO/TS16949, struktur dokumen pada ISO/TS 16949 terdiri dari 4 level dokumen, yaitu Quality Manual, prosedur, instruksi kerja dan form.  Umumnya orang lebih mudah membedakan antara Quality Manual dengan prosedur, ataupun prosedur dengan form. Akan tetapi, kadangkala kita kesulitan membedakan prosedur dengan instruksi kerja. Baca selanjutnya di page 2.

6 thoughts on “Prosedur dan Instruksi Kerja pada ISO/TS 16949

  1. mba cisca yang pinter, saya mo tanya antara sistem dan prosedur dengan Standart operating procedure (SOP) itu sama atau berbeda sih terus hubungnnya dengan bisnis proses bagaimana? mohon penjelasannya dong…

  2. Halo Widi…

    SOP adalah nama lain yang lebih umum dari prosedur. Jadi SOP sama saja dengan prosedur. SOP bisa berupa prosedur, instruksi kerja, operation standard, dan lainnya.
    Business process adalah pemetaan proses-proses yang ada di perusahaan. Misalnya proses pembelian, proses penerimaan barang, proses produksi, dll. Masing-masing proses ada prosedurnya. Prosedur untuk satu proses bisa tidak terbatas jumlahnya.
    Semoga bisa menjawab. Lain kali saya akan bahas mengenai business process mapping. Terima kasih.

  3. Dear Mba Cisca,

    Membaca leveling dan keterkaitan dokumen yang mba tulis, :
    1. Apakah instruksi kerja yang dibuat harus selalu mengacu pada prosedur tertentu ?
    2. Dapatkah kita menyusun instruksi kerja dengan tidak mengaitkannya dengan prosedur tertentu ? bagaimana bila terjadi kondisi dimana intruksi kerja lebih diperlukan daripada prosedur general (yang belum disusun) ?

    terima kasih Mba Cisca…

    salam,
    st. mas

  4. Halo Mas st. mas,

    Sebaiknya instruksi kerja dikaitkan dengan prosedur. Tujuannya, apabila kita merevisi suatu instruksi kerja, dimana disitu tertulis referensi prosedurnya, maka kita juga “ingat” untuk mereview prosedur tersebut, bahkan instruksi kerja lainnya yang terkait. Barangkali ada proses yang harus direvisi juga.
    Memang saya juga seringkali menemui kondisi dimana instruksi kerja lebih diperlukan daripada prosedur. Dalam kasus ini, gunakan referensi Quality Manual sebagai guidance atau prosedur yang lebih tinggi levelnya. Quality Manual pasti dimiliki setiap perusahaan bukan? Bila kemudian prosedur tetap diperlukan, bisa dibuat menyusul. Bila prosedur terlalu general atau suatu proses cukup dijelaskan dengan instruksi kerja, maka hal itu sudah cukup. Artinya kita tidak perlu memaksakan membuat prosedur.
    Semoga membantu. Selamat membuat prosedur.

  5. tks banget penjelasannya yang sgt detail. saya jg mash bingung bedain antara Prosedur Mutu dan WI, tp setelh membaca penjelasan mba Sisca, sekarang jadi paham. skl lg tks ya

  6. Mba Misca yang baik…

    Saya sedang bingung dalam mebedakan format SOP dan Instruksi Kerja, terlebih untuk Instruksi Kerja, apakah batasan format dokumen Instruksi Kerja harus selalu seribet SOP (terdapat Catatan Perubahan, Tempat akses dokumen, tujuan, Ruang Lingkup, Acuan, Definisi bahkan Diagram Alir/Flow Chart). So… bentuk format yang tepat untuk Instruksi Kerja seperti apa ya…. tolong bantu saya :) Thanks a lot….

    salam

    Pipit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s