MINARAI (Belajar dengan mengamati)

Japan Management Style Series

 

Saya pernah begitu jengkel dengan bos Jepang saya karena hasil pekerjaan saya harus diperbaiki hampir 50% nya hanya untuk masalah bahasa yang dianggap kurang halus, dan sebagian besar karena bentuk tulisan atau ketebalan garis pada tabel. Sungguh menjengkelkan, padahal dia tahu bahwa laporan ini harus segera dikirim ke customer di Jepang. Saya pikir, apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih luas lingkupnya atau yang lebih menunjukkan tanggung jawabnya sebagai direktur, sehingga dia mempunyai cukup waktu untuk mengoreksi hampir seluruh pekerjaan anak buahnya. Saya tahu bos saya ini sering masuk di hari Sabtu atau melanjutkan membaca email di apartemennya sampai larut malam. Tapi saya kan bukan dia….! Pekerjaan saya bukan cuma satu macam dan bukan tidak bertumpuk!!

 

Ternyata bukan cuma saya yang sering jengkel. Teman-teman saya juga menemui masalah yang sama. Buka hanya rekan kerja sekantor, tetapi juga teman-teman di perusahaan-perusahaan Jepang lainnya. Usut punya usut, ternyata beginilah budaya Jepang. Bang!

 

Perbedaan kultur ini ternyata cukup mengagetkan tidak hanya orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang, tetapi juga bagi orang Amerika yang bekerja di perusahaan Jepang. Bagi orang Amerika sungguh aneh mempunyai seorang bos yang membuat banyak perubahaan terhadap pekerjaan sesorang. Itu seperti mengerecoki, dan setelah direvisi sudah tidak menunjukkan ciri pekerjaan seseorang lagi.

 

Tetapi Japanese melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda. Mereka tidak melihat bahwa pekerjaan seseorang sebagai hasil karya sesorang yang pada akhirnya mencerminkan performance seseorang. Sebaliknya, apapun yang dikerjakan seseorang adalah hasil karya sebuah kerja tim (work group). Oleh karena itu, sebagai bagian dari grup, bos boleh mengoreksi pekerjaan bawahannya. Di Jepang, seorang staf tidak akan menganggap bahwa bos terlalu mencampuri, tetapi sebagai media untuk belajar. Jadi sense terhadap hasil suatu pekerjaan tidak sama.

 

Japanese menganggap koreksi pekerjaan anak buah sebagai bagian dari training. Di Jepang, training seringkali dilakukan melalui proses yang disebut  M I N A R A I , yaitu belajar dengan mengamati (learning by watching). Atasan atau orang yang sudah ahli menunjukkan bagaimana sesuatu harus dilakukan, dan murid atau staf mengamati dan menirunya. Atasan dapat mengoreksi hasil kerja staf. Staf diharapkan tidak hanya langsung memperbaiki sesuai hasil koreksi, tetapi juga mempelajari koreksian agar tidak terulang di kemudian hari. Dengan kata lain, jika saat ini kita melakukan kesalahan, lain kali kita diharapkan sudah mengerti dan tidak mengulanginya.

 

Hal ini juga tercermin dalam tata letak di kantor-kantor perusahaan Jepang. Biasanya meja-meja kerja untuk work group sejenis diletakkan berdekatan tanpa ada penyekat atau dinding penghalang. Tujuannya agar bos mudah memanggil dan menanyakan sesuatu pada staf nya. Japanese menyebutkan ini sebagai HORENSO dan mereka akan merasa tidak nyaman bila harus bekerja bersama orang Amerika yang tidak mengikuti gayanya. Horenso adalah akronim dalam bahasa Jepang yang terdiri dari Hokoku (pelaporan), Renraku (kontak atau informasi) dan Sodan (konsultasi). Jadi, jangan heran bila seorang Japanese manager mengatakan ”Why don’t my staff come to me and let me see their work, how they are doing and if they have any questions? I feel black if they don’t involve me in every project they are doing.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s