Pengakuan Prestasi untuk meningkatkan motivasi

Japan Management Style Series

 

Pada waktu saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, setiap habis pembagian rapot catur wulan, sekolah kami memberikan beberapa hari libur. Kemudian pada hari pertama sekolah dimulai kembali, ada upacara kenaikan bendera. Di tengah upacara itu Kepala Sekolah mengumumkan pelajar dengan prestasi terbaik.  Biasanya kami memakai istilah barat, yaitu ranking atau peringkat. Pelajar dengan ranking 1 sampai 3 di setiap level diumumkan. Kemudian pelajar terbaik untuk tingkat sekolah juga diumumkan. Nama saya pernah disebut meski bukan juara umum. Ada rasa bangga atas keberhasilan kerja keras saya selama ini. Belum lagi ucapan selamat dari teman-teman sesudahnya. Sebentuk pengakuan sederhana, meski tanpa pesta dan kado, tetapi cukup membuat dagu terangkat beberapa saat.

 

Saya tidak tahu apakah sekolah zaman sekarang masih menggunakan metode yang sama. Yang saya tahu di dunia kerja, metode sejenis ini masih digunakan oleh beberapa perusahaan. Misalnya di suatu hotel saya pernah melihat ada foto seorang karyawan hotel dipasang di lobby dengan tulisan singkat di bawahnya, ”employee of the year”.  Di beberapa perusahaan juga ada yang melakukan hal sama. Sebentuk pengakuan untuk memotivasi semangat kerja karyawan, tidak hanya bagi mereka yang mendapakan penghargaan, tetapi lebih untuk memicu karyawan lain agar lebih berprestasi.

 

Tetapi jangan mengharapkan metode ini dilakukan di perusahaan Jepang. Seorang Japanese akan merasa tidak nyaman apabila dirinya diberi ucapan selamat atau diumumkan keberhasilan prestasinya di muka umum, meskipun dalam lingkungan kerjanya sendiri. Pengakuan ini bisa menimbulkan keretakan dalam team Japanese, takut membuat anggota team lain tersinggung. Usaha untuk memotivasi malah bisa menjadi demotivasi karena tidak sesuai dengan budaya mereka. Karena itu mereka juga berpikir takut untuk melakukannya terhadap orang Indonesia.

 

Japanese lebih menyukai pengakuan personal daripada pengakuan terbuka. Jadi orang Jepang akan memberitahukan kepada seseorang secara personal bahwa dia telah melakukan pekerjaan dengan baik. Kalimat yang digunakan pun tidak perlu berlebihan atau fantastik seperti yang biasa dipakai orang Amerika. Mengajarkan seseorang terhadap suatu hal baru juga bisa diartikan bahwa atasan tertarik akan perkembangannya dan mau membantunya. Undangan untuk menghadiri meeting penting, diikutsertakan dalam project besar atau menempatkan seseorang dalam pekerjaan yang lebih menantang dan menarik juga menunjukkan bahwa atasan Japanese menyukai hasil pekerjaan kita. Sekedar undangan makan bersama juga bisa berarti penghargaan. Kuncinya adalah menunjukkan bahwa kita mengetahui apa yang dilakukan seseorang.

 

Orang Jepang lebih termotivasi dalam kerja kelompok. Penghargaan terhadap kelompok lebih disukai, misalnya kegiatan sosial team, atau yang lebih menyentuh, misalnya membuat kaos atau pin untuk team khusus. Orang Jepang juga lebih termotivasi apabila ditempatkan dalam kelompok kerja yang lebih bergensi, misalnya proyek dengan customer utama.

 

Karyawan Japanese merasa nyaman dan termotivasi apabila perusahaan tempatnya bekerja juga melakukan sesuatu untuk masyarakat sekitar, daripada hanya menambah profit atau laba pemegang saham. Orang Jepang lebih menyukai kestabilan dalam pekerjaan. Mereka konsisten dalam melakukan pekerjaan rutin yang berulang. Di situlah justru kekurangan kita yang kadang tidak konsisten. Konsistensi, kestabilan dan penghargaan personal akan membuat mereka nyaman dalam bekerja dan dapat memberikan kontribusi optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s