Summimasen, can I speak English ?

Suatu kali saya memberikan training Horenso kepada teman-teman kerja di kantor. Di akhir training peserta diminta untuk menuliskan weak point atau kelemahan yang ada di diri kita sendiri dan apa ide perbaikan yang bisa diterapkan di pekerjaan. Saya tidak begitu kaget ketika melihat hasilnya. Cukup banyak yang mengatakan bahwa perbedaan bahasa antara Japanese dan Indonesian menjadi kendala dalam berkomunikasi dan berdiskusi mengenai pekerjaan. Beberapa mengusulkan agar perusahaan menyediakan kelas training bahasa Jepang ataupun bahasa Inggris secara regular. Ada juga yang mengusulkan kelas bahasa Indonesia untuk Japanese.

 

Saya tidak kaget mengetahui bahasa bahasa sering dijadikan penyebab dari sulitnya berkomunikasi. Hal ini tidak hanya terjadi di lingkungan kerja saya, tetapi juga di banyak perusahaan Jepang lainnya. Ini saya ketahui dari teman-teman yang bekerja di perusahaan Jepang. Biasanya kita gembira bila mempunyai Japanese yang cukup fasih berbahasa Indonesia, atau minimal Inggris. Tapi apakah selalu demikian?

 

Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan Jepang dan melihat prestasi teman-teman Indonesia, saya pernah terpikir bahwa alangkah lebih baik bila saya juga bisa berbahasa Jepang. Sepertinya komunikasi akan lancar dan pintu karir lebih terbuka lebar. Tetapi belajar bahasa ternyata lebih sulit dibandingkan belajar statistik, karena bukan cuma otak yang dipaksa berpikir, tetapi lidah juga harus dibiasakan melekuk-lekuk. Ini tidak mudah. Perlu usaha keras dan membiasakan diri untuk menggunakannya. Kadang saya tidak habis pikir bagaimana ada orang yang bisa berbicara dalam 4 sampai 5 bahasa dunia? Luar biasa….

 

Tetapi setelah saya bekerja lebih lama dengan berbagai Japanese, saya mencapai kesimpulan bahwa tidak diperlukan keahlian bahasa Jepang untuk bisa berkomunikasi dengan orang Jepang, karena ada bahasa Inggris yang buat orang Indonesia lebih familiar karena kita sudah mengenal KFC atau Mc. Donald sejak kecil. Betul, bahasa Inggris! Ternyata sekolah-sekolah di Jepang mengajarkan bahasa Inggris selama 3 tahun di sekolah menengah dan 3 tahun di sekolah menengah atas. Kemudian buat mereka yang melanjutkan kuliah, bahasa Inggris juga diajarkan paling tidak selama 4 tahun. Lalu kenapa kita masih sulit berbicara bahasa Inggris dengan mereka?

 

Pengajaran bahasa Inggris di sekolah Jepang lebih sebagai pelajaran analitis dan bukan teknik komunikasi. Ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi kurikulum sekolah Jepang. Begini analoginya. Misalnya Anda diberikan raket tenis dan diajarkan untuk menggunakannya menyaring pasir dari batu kerikil. Lama-lama Anda akan mahir menggunakannya. Tiba-tiba Anda dikirim ke negara lain dimana Anda diminta untuk menahan bola dengan raket tenis tadi. Tidak hanya menahan, tetapi juga diminta mengembalikan bola dengan raket ke sisi lapangan yang lain dan begitu seterusnya. Bola bergerak sangat cepat dan sepertinya datang dari berbagai arah. Ini sama dengan perasaan orang Jepang ketika harus menggunakan bahasa Inggris. Mereka mempelajari vocabulary dan grammar bertahun-tahun, tetapi tidak melatihnya dengan native speaker. Bahkan test masuk universitas hanya menekankan pemakaian terminologi bahasa Inggris yang benar, terlepas apakah mereka bisa mengkomunikasikannya dengan tepat. Tidak heran bila kemudian Japanese merasa frustasi bila harus bekerja bersama orang yang berbicara bahasa Inggris.

 

Sering saya dengar teman-teman mengatakan, ”Si A (Japanese) sebetulnya bisa bahasa Inggris, tapi begitu diajak bicara hal-hal yang penting, dia selalu bilang kalau dia tidak mengerti.” Menjaga komunikasi tetap berlangsung, apalagi untuk hal-hal penting, memerlukan teknik komunikasi tersendiri, bahkan saat berbicara dengan orang dari bangsa sendiri. Berbicara dengan Japanese akan lebih kritikal dan membutuhkan pendekatan interpersonal dan kultural.

 

a.     Buat pendahuluan

 

Salah satu prinsip dalam Hokoku (Horenso berasal dari kata Hokoku, Renraku dan Sodan. Lihat artikel ”Horenso”) adalah TPO atau Time, Place, Organization. Artinya bila kita berkomunikasi, pastikan pada waktu yang tepat, tempat yang tepat dan kepada organisasi yang tepat. Bila kita mau membicarakan hal penting dengan Japanese, ada baiknya kita bertanya dulu, ”apakah ini waktu yang tepat?” Tidak ada orang yang suka diinterupsi meskipun dalam kondisi urgent.

Pada waktu saya berjalan-jalan di Jepang dengan beberapa teman termasuk 1 orang Japanese, kami sempat kehilangan arah. Kemudian teman Japanese saya menanyakan kepada orang Jepang yang ditemui di jalan. Kami menunggu sebentar. Saya hanya mengerti kata awal Summimasen. Kemudian mereka terlihat mengangguk-angguk dan teman saya kembali ke kelompok kami sambil menunjukkan jalan. Karena ingin tahu, saya tanyakan kepada teman saya tentang apa yang dikatakan orang itu. Teman saya bilang kita harus lurus, kemudian belok ke kiri di persimpangan. Saya tanya, ”Cuma itu?” Teman saya bingung, ”iya, kenapa?” Saya jawab sepertinya bicaranya cukup panjang dan lama. Akhirnya teman saya menjelaskan bahwa awalnya adalah pembicaraan basa basi, misalnya, ”Maaf, boleh saya bertanya sesuatu?” Setelah orang yang ditanya seperti ”menyediakan waktu”, teman saya memulai lagi, ”Kami kehilangan arah. Boleh kami bertanya jalan?” Setelah dipastikan bisa bertanya, baru teman saya mengajukan pertanyaan inti. Hhmm, jadi saya harus membuat pendahulan bila ingin membicarakan sesuatu dengan Japanese. Betul juga, karena pernah teman saya yang lain, orang Indonesia, mendapat jawaban ”I don’t speak english” dari seorang Japanese yang jelas-jelas bisa berbahasa Inggris, ketika teman saya menanyakan jalan to the point.

 

b.     Pastikan tujuan pembicaraan

Seberapa mendesaknya pun suatu masalah, pastikan bahwa tujuan pembicaraan adalah mencari solusi, bukan berdebat tentang siapa yang salah. Japanese tidak terbiasa melakukan perdebatan (friendly debate) sejak kecil. Bila pembicaraan mulai mengarah menjadi perdebatan, dia akan menutup mulut dan menghentikan komunikasi.

 

c.      Beri tanggapan positif terhadap perbedaan pendapat

Apabila ada perbedaan pendapat, pastikan untuk memberi tanggapan positif. Jangan mengatakan, ”Wah, ide ini tidak bagus. Anda tidak mempertimbangkan faktor X.” Lebih baik kita mengatakan, ”Hhmm, ide yang bagus. Bagaimana dengan faktor X ya?” Saya pikir ini adalah hal yang bagus tidak hanya untuk Japanese, tetapi siapapun akan merasa lebih dihargai pendapatnya.

 

d.     Mendengarkan dengan aktif

Bila lawan bicara kita sedang berbicara, pastikan kita mendengarkan dan menyimaknya. Pastikan teman Japanese kita tetap melanjutkan pembicaraan. Bila terlihat ada keraguan, coba katakan, ”ya, ya… terus bagimana?” atau kalimat lain yang sejenis atau minimal mengganggukkan kepala sambil tetap menjaga kontak mata. Dalam pembicaraan gaya jepang, baik pembicara maupun pendengar harus aktif. Pendengar dapat mengeluarkan kata-kata atau bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa dia mendengarkan. Dalam bahasa Jepang ini disebut ”aizuchi”.

 

So, are you ready to success without Japanese language? Mempelajari teknik-teknik komunikasi tertentu selama kita bekerja di perusahaan Jepang dapat membuat perbedaan dalam berkomunikasi yang efektif dengan Japanese, tanpa kita harus mempelajari banyak bahasa Jepang. Cukup gunakan beberapa kata-kata pembuka atau penekan. Summimasen, can I speak with you? Wakaru, arigato gozaimasu.

5 thoughts on “Summimasen, can I speak English ?

  1. Bertahun2 belajar bahasa jepang, bekerja di perusahaan jepang, bertahun2 berusaha memahami pola pikir & budaya jepang, saya tetap tdk bisa memahami orang jepang.
    Sebelumnya, saya merasa bahwa saya bisa menjadi seperti mereka, berpikir seperti mereka, sambil terus berupaya memahami. Tapi, hhh.. betapa capeknya. Ternyata, bibit Indonesia saya masih tetap dominan.
    Mungkin sekarang giliran orang jepang yg harus beradaptasi, tul gak? Kan mereka bukan berada di Jepang tokh?

  2. Saya sangat senang Bu Cisca sangat berbaik hati berbagi semua ilmu ke-Jepang-an dalam blog ini. Terlebih bagi saya yang sudah sekian lama berhubungan dengan Japanese beserta pola pikirnya belum pernah terpikir untuk membagi apa yang saya tahu (mungkin lebih tepatnya belum berani), seperti yang sudah dilakukan Bu Cisca sekarang. Saya sangat tertarik dengan analogi yang menggambarkan kemampuan bahasa asing (dalam kasus ini bahasa Inggris). Bisa saya tambahkan dari yang saya ketahui bahwa kesulitan mereka dalam memahami bahasa Inggris mungkin juga disebabkan oleh 2 hal. Yang pertama adalah dari struktur bahasa Jepang yang S-O-P berbeda dengan bahasa Inggris yang S-P-O, sehingga ketika mereka ngomong kemungkinan akan terbalik-balik. Hal tersebut masih diperparah dengan sistem pengajaran bahasa Inggris yang tetap memakai huruf katakana dan bukan alfabet sebagai cara baca kalimat bahasa Inggris. Tentunya bisa dibayangkan bahasa Inggris yang banyak kata-katanya berakhiran dengan huruf konsonan berubah menjadi kata yang berakhir dengan huruf vokal. Dan manakala mereka berinteraksi dengan orang asing pasti akan mendapatkan banyak kendala. Disamping pasif, pola pikir berbahasa yang berbeda, mereka juga tidak mengenal hampir semua bahasa Inggris yang diucapkan oleh native atau bukan native karena bunyi bahasa yang mereka pelajari selama ini berbeda dengan actual bunyi bahasa yang mereka dengar langsung dari sumber lawan bicaranya. Hal ini juga yang saya sadari ketika saya belajar bahasa asing, selain kata yang tidak saya mengerti artinya faktor bahwa saya salah mengucapkannya akan menyulitkan saya menangkap atau mengidentifikasi bunyi bahasa yang terdengar. Tapi bagaimanapun kunci belajar bahasa adalah terbiasa. Dengan terbiasa menjadi bisa, seperti pepatah practice makes perfect. Ini pun sedang saya coba praktekan dengan kemampuan bahasa saya. Mari kita coba bersama.

  3. orang jepang..??.. pahami kharacter orang tsb. tidak semua org jepang sama. org jepang memiliki ego yg tinggi. dia tidak mau kalah…….orang jepang punya rasa hormat yg tinggi…. bila kita punya sesuatu yg superior…. sebenarnya org jepang tidak mau ada garis yg tegas antara bawahan dan atasan….cobalah pendekatan secara interpersonal non-formal, friendly…maka akan menyentuh nya !!! intinya jangan diajak tegang !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s