Japanese Approach

Selama kita bekerja dengan team, atasan maupun bawahan, tentunya akan ada saat-saat dimana kita perlu melakukan pendekatan persuasif. Pendekatan ini bukan dalam pengertian negatif dimana kita mau berusaha mendapatkan approval atasan untuk suatu project yang tidak begitu penting bagi perusahaan. Tetapi pendekatan dalam pengertian positif demi kemajuan perusahaan sendiri. Pendekatan ini biasanya perlu kita lakukan karena atasan kita yang japanese belum atau kurang menyetujui penjelasan awal. Sebenarnya mereka menantikan penjelasan detail lebih lanjut atau ada sesuatu yang diharapkan oleh mereka, tetapi mungkin mereka tidak bisa mengungkapkannya, baik karena kendala bahasa, situasi atau waktu yang dianggap belum tepat.

 

Berikut ini beberapa tip yang mungkin bisa berguna apabila Anda dihadapkan pada situasi seperti diatas.

 

a.    Solidaritas kelompok

Pada saat kita mengajukan suatu kasus ke orang Jepang, pastikan bahwa apa yang kita ajukan telah kita sharing ke rekan kerja kita lainnya. Dengan kata lain, tekankan bahwa apa yang kita ajukan adalah hasil kesepakatan kelompok. Japanese lebih menghargai hasil kerja kelompok daripada individu. Japanese merasa bahwa ”semakin banyak kepala akan semakin baik idenya”. Banyak dari antara kita yang ingin ”tampil beda” atau terlihat lebih ahli dibandingkan rekan-rekan kerja lainnya. Ini malah tidak diinginkan orang jepang, karena mereka akan beranggapan sifat individu kita cukup kuat dan bisa merusak kekompakkan team. Akhirnya kita bisa kehilangan penentuan kesepakatan bersama (nemawashi).

 

b.    Pengulangan

Sebaiknya bila kita mempunyai ide bagus, ulangi ide itu beberapa kali untuk membangun minat dan dukungan rekan kerja lainnya. Jangan lupa untuk sertakan orang Jepang sesekali. Misalnya dengan mendengungkannya pada saat meeting singkat atau di sela-sela pertemuan. Japanese cenderung lebih persuasif oleh sesuatu yang dia rasa sudah didukung orang banyak. Oleh karena itu kita perlu mengulang-ulang ide kita sebelum akhirnya menjadi kesepakatan. Kalau hanya satu kali kita mengungkapkan ide, mungkin belum terlalu dipikirkan oleh mereka. Jadi jangan langsung putus asa dan tidak mau lagi mengeluarkan ide. Ini hanya masalah kepercayaan dan waktu. Tetapi perlu diingat, bahwa mengulang jangan hanya sekedar mengulang kalimat yang sama. Tapi tambahkan sesuatu yang lain setiap kali kita mengulangnya. Misalnya kali ini kita tambahkan satu keuntungan langsung bila ide itu diterapkan. Lain kali kita informasikan bahwa bagian lain bisa terbantu pekerjaannya. Dan seterusnya.

 

c.     Penelitian dan Analisa yang cukup dalam

Japanese love data. Bila kita ingin membuat suatu keputusan, mereka cenderung ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Bahkan mungkin mereka akan bertanya ”kenapa” sebanyak 5 kali. Oleh karenanya kita harus menyiapkan data dengan baik. Semakin baik dan detail data yang kita siapkan, akan semakin menarik hati mereka. Jangan lupa untuk menampilkan intisari dari data, bukan hanya kesimpulan umum.

Menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan bahan presentasi yang menarik mungkin tidak banyak membantu bila tidak didukung data. Lebih baik kita usahakan untuk menyediakan data daripada memoles penampilan presentasi kita. Oleh sebab ini banyak Japanese yang ekstra hati-hati bila harus menghadiri suatu presentasi oleh orang Amerika. Orang Amerika cenderung menyiapkan presentasi dengan menarik, tetapi lebih ke kulit dan kesimpulan umum, tetapi data kurang banyak.

 

d.    Rekomendasi dari orang dikenal

Bila kita mengatakan sesuatu itu bagus dan banyak dipakai di beberapa perusahaan atau oleh banyak orang, bisakah kita menyebutkannya dengan tepat siapa saja yang sudah menggunakannya? Banyak orang yang begitu percaya diri bahwa sesuatu itu bagus tanpa belum mencobanya sendiri atau hanya ”dengar-dengar” saja. Bagi Japanese, mereka akan sangat tertarik bila kita bisa menyebutkan nama-nama orang terkenal atau orang terhormat yang sudah menggunakannya. nama-nama dari perusahaan yang lebih high-level, karena semangat kompetisi di dalam Japanese cukup kuat.

Inilah kunci utama bila Anda menjadi sales dan sedang mencoba menjual produk Anda ke perusahaan atau orang Jepang. Pastikan Anda sudah membawa daftar pemakai yang berisi orang-orang terkenal dan disegani.

 

e.    Customer satisfaction

Bagi Japanese, customer is number one. Apapun yang dikatakan customer, biasanya mereka cenderung untuk menyediakannya. Apalagi kalau customer itu adalah pemimpin dibidangnya. Misalnya Toyota yang bagi mereka adalah perusahaan otomotif “mereka”. Jadi kalau memang ide yang akan kita gulirkan dapat mendukung kepuasan customer, jangan lupa untuk menyebutkannya pada awal pembicaraan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s