Resensi buku The Leader, The Teacher and You

Sharing resensi buku “The Leader, the Teacher & You : Leadership through the Third Generation” karya Lim Siong Guan. ‎Ini saya dapatkan dari seorang teman. Menarik untuk jadi bahan pelajaran bagi kita. Selanjutnya bisa mulai diterapkan untuk anak-anak penerus kita.

PIKIR… DAN PIKIRKAN LAGI (THINK… AND THINK AGAIN)

Sekitar 20 tahun yang lalu, saya berbicara dengan seorang warga Singapura tamatan sekolah di Jepang, kemudian bekerja pada perusahaan Jepang di Singapura. Waktu itu “Gerakan Produktivitas Nasional” di Singapura baru saja dimulai dan kami ingin belajar sebanyak mungkin dari orang Jepang mengenai produktivitas.

Saya tanyakan ke dia, “Apa perbedaan orang Jepang dengan orang Singapura? Bagaimana cara perusahaan-perusahaan Jepang bisa membuat karyawannya selalu memikirkan cara-cara baru untuk meningkatkan pekerjaan mereka? Pada produk-produk buatan Jepang yang sudah bagus, misalnya mobil dan kamera, bagaimana mereka selalu terus mampu memunculkan desain-desain baru?

Dia menjawab, “Semuanya dimulai saat orang Jepang masih kecil. Sejak kecil, mereka sudah diajarkan untuk memikirkan apapun yang sedang dikerjakan dan memahami (konsekuensi) mengapa mereka melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya pekerja-pekerja di Jepang terus menerus memikirkan cara-cara yang lebih baik dalam melakukan sesuatu dan hal-hal yang lebih baik untuk dihasilkan“.

“Sebagai contoh, seorang ayah (orang Jepang) yang ingin menggantungkan pigura di dinding. Di meminta anaknya untuk membawakan paku. Jika si anak hanya membawakan kepadanya paku, dia akan tanya, ‘mana palu nya?’ Si anak akan berkata ‘Saya mohon maaf karena tidak membawakan palu’, kemudian pergi untuk mengambil palu.”

“Sekarang bayangkan skenario yang sama, tapi kali ini orang Singapura. Jika si anak hanya membawakan paku, dan ketika ditanya sang ayah, “mana palu nya?” kira-kira apa jawaban si anak? Apakah dia akan mohon maaf (seperti anak Jepang)? Atau akan berkata ‘Ayahkan tidak minta saya membawakan palu'”.

Kita tidak boleh membatasi diri dengan cukup melakukan hal yang dimintakan kepada kita untuk dikerjakan. Kita harus selalu menanyakan kepada diri sendiri “Untuk apa hal ini saya lakukan?” Kemudian memikirkan juga apa lagi yang seharusnya kita lakukan, baik itu berupa cara yang lebih baik atau hal-hal baru yang dapat dihasilkan, yang berguna, masuk akal, danefektif. Dengan demikian kita akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Marilah kita ingat: Jangan hanya membawakan paku. Apakah perlu sekalian bawa palu juga? Apakah lebih baik foto tersebut digantungkan di dinding yang lain? Atau lebih baik digantungkan foto lain atau ukir-ukiran saja? Apa tujuan foto tersebut digantung? Apakah akan membuat ruangan kelihatan lebih baik? dll…

Pikir… dan pikirkan lagi.

Save a TREE. Read digitally. Nearly 17 reams of paper use 1 tree. Save our earth.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s